Minggu, 22 Juni 2014

SESEORANG LAKI-LAKI DIBULAN NOVEMBER



Sepertinya, hujan sore ini memanggilku untuk datang. Langkahku terseok-seok menerobos pekatnya hujan berkabut tebal. Tak peduli. Payungku bermotif bintang kecil-kecil berwarna biru muda sudah tak menyesuaikan lagi dengan tugasnya memayungi si empunya. Aku hanya merasakan ingin bertemu seseorang. Yah, seseorang yang selalu kutunggu dalam hari-hariku. Aku akan menemuinya! Jerit hatiku.
***
Library Cafe, 25 November 1998
Dalam beberapa hari terakhir dalam bulan November ini aku memperhatikannya berkali-kali. Sedetil-detilnya penelitianku dan kuyakin penglihatanku tidaklah salah. Untuk meyakinkan dugaanku, sengaja aku juga menanyakan beberapa pegawaiku, dan jawaban mereka sama, tak ubahnya dengan apa yang aku harapkan.
Seorang laki-laki berwajah sangar itu selalu mengambil tempat duduk di pojok utara menghadap kaca yang menembus keluar. Kira-kira seumuran ayahku yang sudah meninggal dunia dua tahun lalu. Terhampar pemandangan elok Sungai Tritis menyajikan sebagai pemuas hati setiap orang yang menikmatinya. Sepertinya, orang yang tak kukenal namanya itu adalah seorang pelukis atau tepatnya hobi menggambar. Rasa-rasanya, Ia telah menguasai tempat itu seorang diri.   Tak peduli dengan pengunjung lain yang ‘mungkin’ ingin juga duduk santai di kursi rotan menghadap ke sungai sambil menghirup pelan-pelan segelas vanila late hangat pengusir rasa sepi saat hujan deras mengguyur tanpa ampun. Seperti hari-hari sebelumnya, setelah ia memesan segelas white coffee dan sepiring kecil pisang keju, ia pun segera mengeluarkan sesuatu dari dalam tas yang sering dia sematkan di punggungnya. Sebuah pensil, penghapus pensil, beberapa lembar kertas putih semacam skets book dan satu lagi yang membuatku tertarik untuk memperhatikannya lebih jauh, sebuah gelas kecil putih bening mirip cangkir kopi cafe ini. Dia selalu membiarkannya kosong tanpa isi apapun, melihatnya lekat tanpa kata, sedikit mengangkatnya ke udara, meletakkannya kembali ke meja, memindahkannya dari ujung meja ke ujung meja, dan kembali menatapnya lekat, sungguh sangat lekat. Lantas dengan seriusnya ia mencoret-coret kertas putih itu asal-asalan, kurasa, seperempat jam kemudian dengan senyuman kepuasan yang sepertinya sangat dipaksakan, ia memandangnya dari beberapa sudut, kanan, kiri, miring, sedikit serong dan menyamakannya dengan gelas ‘misteri’ di depannya itu. Tak ada ekspresi lagi selainitu. Setelah itu ia melihat pergelangan tangannya, mengamati jam tangan berwarna hitam kebiru-biruan, lantas mengemasi barang-barangnya, meminum segelas white coffee yang kutaksir sudah dingin sedari tadi dengan sekali tegukan, memakan beberapa buah pisang keju, segera membayar ke kasir yang terletak di sudut depan pintu masuk bertuliskan “Open” dan langsung bergegas pergi meninggalkan cafe. Berjalan menyusuri lorong-lorong kecil dan menghilang begitu saja ditelan kabut tipis Sungai Tritis mangsaudan[1]. Hal itu selalu berulang-ulang setiap orang ‘aneh’ itu mengunjungi tempat ini.
Dan hari ini, rasa penasaranku benar-benar tak terbendung lagi. Aku  akan menunggu kedatangannya. Rupanya Tuhan mengabulkan keinginanku. Tak berapa lama kemudian, ia, orang aneh itu, datang dengan membawa tas yang sering ia bawa. Seperti hari-hari sebelumnya, ia melakukan rutinitasnya seperti hari-hari sebelumnya. Perlahan aku duduk di kursi kecil dekat dengan vas bunga sekiranya aku bisa memandang kertas yang sedang dipegang dengan tangan kirinya. Ia tampak kaget, memandangku dengan tatapan kosong dan sedikit mengubah posisi duduknya. Tanpa memperdulikan kedatanganku, ia melanjutkan lagi berjibaku dengan pensil dan kertas. Dan kali ini aku dianggapnya angin lalu, kesal, apakah ia tidak tahu bahwa akulah manager di cafe ini? Sungutku dalam hati.
Aku tetap saja tidak bergeming dari tempatku meski hal yang kuinginkan, yakni, ia, si orang aneh itu, bertanya padaku, mungkin saja bertanya “Ada apa?” atau “Maaf, siapa anda?” atau pertanyaan-pertanyaan yang lain. Aku merasa ini agresif, tapi aku hanyalah seseorang yang suka berlaku demikian dengan orang yang kurasa menimbulkan bibit ‘penasaran’ dalam hatiku. Berbeda denga hari-hari yang telah lalu, kali ini ia duduk lebih lama dari biasanya. Hampir setengah jam. Kulihat sekilas ia hanya menggambar gelas yang ada di atas meja itu, satu kecil dan satunya lagi agak besar. Tak kusangka ia bangkit menyambar gelas itu, kemudian meletakkan begitu saja beberapa lembar kertas hasil karyanya itu di atas meja, dua lembar uang puluhan ribu, tanpa memperdulikan tas dan barang-barangnya yang lain, ia pergi tergesa-gesa. Sebelum ia menghilang di balik pintu, ia melambaikan tangan dan tersenyum ke arahku.
Deg. Apa maksud semua itu?Aku terpana dan linglung.
Mulai saat itu, aku tidak lagi melihatnya bertandang sore-sore ke cafe ini. Bahkan tidak pernah lagi. Dalam hati aku bergumam, aku sepertinya merasa kehilangan.
***
Library Cafe, 25 November 1999
Tepat setahun aku memikirkan apa arti lambaian tangannya, apa arti senyumannya untukku. Dan mengapa aku selama ini selalu terngiang-ngiang akan hal itu? Ah, aku sendiri tidak tahu. Hanya saja, aku berharap akan kedatangannya, menjelaskan apa maksud dari semua itu, membeberkan dengan lisannya sendiri di hadapanku. Sore ini aku bergegas meninggalkan rumah, pamit Ibuku dan segera meluncur ke Cafe, sekalian aku akan mengecek administrasi bulan ini, pikirku. Rasa-rasanya semangat ini begitu saja muncul, padahal dua hari yang lalu aku terserang demam tinggi.
Benar sekali dugaanku, orang aneh itu sudah berada di pojok ruangan. Berkemeja silver kotak-kotak, bercelana jeans belel, dan sebuah topi bertengger di kepalanya. Ia menikmati white coffee sembari melayangkan pandangan ke sekeliling sungai Tritis dari balik kaca. Ada yang aneh, ia tak lagi membawa perkakas seperti dulu lagi. Tak ada tas, pensil, penghapus pensil, kertas-kertas dan sebuah gelas kecil putih bening. Ia tak membawa apa-apa. Lambeantangan [2] seperti ibuku menyebutnya ketika aku ke kafe tak membawa barang apapun, meskipun untuk selembar uang ribuan.
Aku mendekatinya, duduk di dekatnya dengan kursi terpisah.“Apakabar?”Aku memulai percakapan. Ia tak bergeming sedikitpun, tapi sepuluh detik kemudian ia menoleh, menatapku dan tersenyum. Kulihat ia mencari-cari sesuatu dari dalam saku kemejanya, memberiku kertas lecek berwarna coklat keemasan, terlipat-lipat tak beraturan. Belum saja aku menanyakan segala hal yang tidak kuketahui, ia pergi begitu saja tanpa peduli perasaanku yang sedang berkecamuk menanyakan ini semua. Sebuah gambar gelas agak besar dan gelas kecil bertuliskan ‘Sorry, Mother and Baby’ di bawahnya. Aku tidak tahu sama sekali apa maksudnya itu.  Berusaha ku tepiskan saja dan setelah aku mengecek bagian administrasi keuangan, aku beranjak pulang dan berencana menceritakannya pada Ibu.
***
Sambil terisak Ibu mengatakannya lirih, ”Dia diminta menceraikan saya setahun setelah saya menikah karena dia cacat, tak bisa bicara. Padahal awalnya semua keluarga setuju, bahkan ayah yang menikahkan saya di depan para tamu”.
“Saya tak bisa berkata-kata apapun, semua keluarga tak peduli dengan perasaan saya”. Isak Ibu makin menjadi, dan aku sungguh tak faham dengan apa yang terjadi.
Tak ada yang bisa kulakukan selain memeluk tubuh Ibuku. Berusaha menenangkannya meski aku juga tak tahu harus dengan cara bagaimana.
“Nak, maafkan Ibu karena tak menceritannya padamu. Dia pergi saat kamu masih enam bulan di perut Ibu. Berjanji akan kembali dua puluh tahun lagi jika masih diberi kehidupan olehTuhan, dengan sebuah gambargelas. Dan hari ini adalah tepat kedua puluh tahunnya. Dia, orang yang memberimu kertas ini adalah ayahmu. Ayah kandungmu”.
Aku terkejut bukan main. Degup jantungku seakan berhenti. Lalu sekelilingku terasa gelap. ###
                                                          Yogyakarta, 22 November 2013



[1]Musimhujan
[2]Tangankosong