Jumat, 28 Maret 2014

Ibu, Tamparlah Mulut Anakmu-Emha




Bagi saya, hari ibu adalah setiap saat, setiap detik dan setiap-setiap yang lainnya. Jika mempunyai sepotong roti, maka hanya ibulah yang akan bilang “Saya sudah kenyang. Ayo makanlah”.
Ibu saya berkata,“Rasa-rasanya hampir mati mengandungmu di dalam perut ini”. Mendengarnya, lalu akan saya jawab dengan kata-kata apa, huruf-huruf apa, kalimat-kalimat yang bagaimana?
Cukupkah sebagai jawaban dengan air mata yang tiba-tiba meleleh ini?
Saya hanya tak mampu mengeluarkan seucap kata pun, rasa-rasanya mata ini pun tak kuasa memandangnya.
Kabur... Lalu limbung...
Dan ibu masih saja menjerit, “Nak kamu kenapa? Sakitkah?
Saya menjawabnya dalam hati,”Iya ibu, salah saya kepada ibu tak bisa lagi saya hitung. Setinggi gunung yang paling tinggi pun, masih lebih tinggi. Sedalam laut yang paling dalam pun, masih lebih dalam. Seluas alam jagat raya ini pun masih lebih luas lagi. Saya hanya dapat merintih, Maafkan kesalahan saya ya bu, lahir batin”.

Ibu, Tamparlah Mulut Anak-anakmu
Ibu, engkau duduk di hadapanku.
Ibu jadilah hakim yang syadid, yang besi, bagi anak-anakmu.
Jika kutulis ini sebagai buku netral, pengadilan akan empuk. Setiap kata dari beribu bahasa bisa dipakai untuk mementaskan kepalsuan. seratus ahli penyusun kalimat bisa memproduksi puluhan atau ratusan ribu rangkaian kata yang bebas dari kenyataan dan dari diri penyusunnya sendiri.
Kebebasan itu bisa sekedar berupa keterlepasan kicauan intelektual dari dunia empiris, tapi bisa juga merupakan kesenjangan antara semangat ilmu—yang di antara keduanya membentang kemunafikan, inkonsistensi atau bentuk-bentuk kelamisan lainnya.
Syair tidak bertanya kepada penyairnya.
Ilmu tidak menguak ilmiawannya.
Pembicaraan tidak menuntut pembicaranya.
Tulisan tidak meminta bukti hidup penulisnya.
Ide tidak kembali kepada para pelontarnya.

Ibu yang duduk di hadapanku, ini adalah kritik anak-anakmu sendiri.
Allah melaknat orang yang mencari ilmu untuk ilmu. Al-‘ilmu lil-‘ilmi.
Ilmu menjadi batu, dan para pencari ilmu menyembah bau-batu, berhala berhala yang membeku di perpustakaan dan pusat-pusat dokumentasi serta informasi.
Betapa penting dokumentasi, tetapi ilmu tidak dipersembahkan kepada museum apapun, melainkan kepada apa yang bisa dikerjakan hari ini oleh para penulis di lapangan, bukan di kahyangan.

Ibu, tamparlah mulut anak-anakmu.
Orang yang bertahun-tahun mempelajari mana yang benar dan mana yang salah dalam kehidupan, tidak dijamin memiliki kebenaran mental untuk mengemukakan sesuatu hal itu benar dan sesuatu hal itu salah. Tinggi dan luasnya Ilmu pengetahuan seorang cendekiawan tidak menjanjikan jaminan moral. Artinya, dari kenyataan itu tercermin ketidaktahuan kemanusiaan.
Di dalam diri seseorang tidak terdapat keterkaitan positif antara, pengetahuan, ilmu, mentalitas dan moralitas.

(Emha Ainun Nadjib/Ibu, Tamparlah Mulut Anakmu)



Kebumen, 29/03/14

Selasa, 25 Maret 2014

IHSAN BIN DAHLAN (Al Ghazali Ash-Saghir) SANTRI MUDA YANG NAKAL



Adalah Syeikh Ihsan Bin dahlan, Kiai berpengaruh pengarang kitab Sirojut-Tholibien itu, ternyata ketika masih muda nakalnya luar biasa. Hampir setiap malam nonton pertunjukan wayang. Gus Ihsan putra Kiai Dahlan pengasuh pondok pesantren “Jampes” itu, sangat terkenal lihai memainkan kesenian wayang kulit. Semua lakon wayang ia hafal luar kepala. Pernah suatu ketika, pada saat pentas wayang kulit masih berlangsung, Ihsan menyela pertunjukan dan menyalahkan lakon yang dibawakan oleh sang Dalang. Dalang itu marah sekali, dengan muka merah padam, menantang debat Ihsan tentang “Pakem Pewayangan”. Tantangan itu dilayani Ihsan, dengan syarat harus ada jurinya. Akhirnya keduanya sepakat untuk menghadap dalang yang dianggap paling tua di kota Kediri. Setelah berdebat panjang lebar, akhirnya dalang sepuh itu memutuskan yang benar adalah “Pakem” yang disampaikan Ihsan.
Meskipun Ihsan Bin Dahlan termasuk sangat nakal, namun setiap malam istiqomah ngaji sorogan kepada abahnya, pengajian prifat ini dilakukan setelah tengah malam, karena sebelum tengah malam Ihsan belum pulang dari keluyurannya. Selain nakal, Ihsan juga terkenal paling cerdas diantara saudara-saudaranya.
Kenakalan Ihsan sangat menyusahkan neneknya, Nyai Istianah. Mbah Nyai sangat prihatin dengan sepak terjang cucunya yang satu ini. Ihsan dianggap keluar dari tradisi keluarga kiai yang selalu menonjolkan akhlaqul karimah.
Suatu ketika, Ihsan diajak neneknya ziarah ke makam kakek buyutnya, Syeikh Yahuda di Nglorok, Pacitan. Setelah selesai membaca tahlil dan Al-Qur’an, Mbah Nyai berdo’a panjang, dan sebelum pamit pulang, Mbah Nyai matur kepada Syeikh Yahuda yang sudah sumare itu,”Mbah Yai, niki putu njenengan! Ihsan, menawi panggah nakal, panjenengan dunga’ake mawon mugo-mugo diparingi mati enom mawon!”.
Selang beberapa hari setelah ziarah, pada waktu tidur, Ihsan bermimpi bertemu kiai tua, memakai jubah panjang dan sorban, kakek itu membawa batu besar sekali dan batu itu dilemparkan mengenai kepala Ihsan hingga hancur dan berdarah-darah. Ihsan tersentak kaget dan terbangun dari tidurnya. Terasa dalam benaknya, perasaan takut luar biasa.
Setiap saat selalu ingat ancaman kakek tua itu,”Awas kalau terus nakal! Ngaji! Ngaji!, awas kalau tidak ngaji!”. Konon kakeknya yang menemui dirinya dalam mimpi itu adalah Syeikh Yahuda, kakek buyutnya, yang terkenal wali abdal itu.
Semenjak mengalami mimpi itu, Ihsan tidak lagi berani keluyuran malam. Ada semacam dorongan kuat sekali, untuk pergi mengembara mencari ilmu. Akhirnya Ihsan minta restu pada orang tua dan neneknya untuk berguru pada Syaikhuna Kholil di Bangkalan, Madura. Hanya sekitar dua pekan nyantri di Bangkalan, disuruh pulang oleh Mbah Yai Kholil. Kemudian mondok di Lasem hanya sekitar satu tahun dan terus pindah-pindah pondok. Ternyata tekad dan pengorbanan Ihsan yang nakal dan cerdas itu membawa hasil. Ia meraih sukses besar, menjadi seorang alim yang tidak hanya terkenal di Jawa saja. Namanya berkibar diseluruh penjuru dunia Islam. Lewat kitab karangannya “Sirojut-Tholibien” komentar kitab “Minhajul ‘Abidin” (karya terakhir Imam Al-Ghazali). Syeikh Ihsan Bin Dahlan Al-Jampasi Tsumma Al-Kadiri, dikalangan muslim timur tengah mendapat gelar “Al-Ghozali-Ash-Saghir”, karena terbukti sebagai seorang ulama yang menguasai fan tasawwuf secara mendalam.
Sebenarnya kitab-kitab karya Syeikh Ihsan Bin Dahlan banyak sekali antara lain : “Irsyadul ikhwan” menerangkan hukum merokok dan minum kopi, kemudian syarah kitab Irsyadul ‘Ibad yang berjudul “Manahiju Al Imdad” yang sampai sekarang belum diterbitkan. Pernah akan diterbitkan, dan terlebih dahulu ditashehkan kepada Syeikh Yasin Bin Isa Al Fadani, baru mendapat satu jilid, Syikh Yasin wafat.
Kitab Sirojut Tholibien karya Syeikh Ihsan Bin Dahlan, dijadikan materi kuliah dibidang tasawwuf di Al Azhar, Mesir dan perguruan-perguruan tinggi lainnya di Timur Tengah. Ketika Syeikh Ihsan masih hidup, pernah diminta raja Farouq untuk menjadi guru besar di Mesir. Namun beliau menolak. Sungguh orang tidak menyangka “Ihsan Bin Dahlan” pemuda yang dulu nakal dan bandel itu kelak akan menjadi ulama besar, pengarang kitab Sirojut-Tholibien.
Kiai Mahrusy Lirboyo pernah dawuh : “Bocah kui nek nakal, tandane pinter”. Bolehlah mbeling, asalkan sumbut (sesuai) dengan prestasinya. Jangan yang ditiru hanya nakalnya saja. Wallahu a’lam.
·         M.Ridwan Qoyyum Said, Rahasia sukses fuqoha. (Kediri Jatim : Mitra Gayatri, 2006)

Hj.Ida Fatimah Zaenal, M.Si



Keberhasilan dan kebesaran ini tidaklah diraih dengan gampang, dan  tidak terlepas dari orang-orang yang berada disekeliling beliau. Keluarga adalah motivator terbesar beliau melecutkan semangat dalam belajar. Yang menjadikan beliau tetap eksis sampai sekarang adalah, karena beliau mempunyai pegangan, yaitu pribadi yang komitmen, itu merupakan hal terpenting dalam berproses.



Berasal dari keluarga yang sangat peduli sosialisme. Beliau lahir di Bangil, 4 agustus 1952. Sang ayah, KH.Abdurrohman yang aktif di mabarot dan ibu, Hj.Aisyah di muslimat. Dari hal inilah beliau belajar banyak pada orang tua beliau, bahkan sering ikut menghadiri organisasi-organisasi. Dan inilah yang menjadikan beliau merintis sebagai organisator.
Dengan adanya keluarga yang demokratis, beliau diberikan hak untuk memilih yang memang sejalan dengan minat dan kemampuan yang beliau inginkan. Keaktifan beliau mulai nampak dan ditunjukkan pada saat beliau duduk di bangku SMA, antara lain beliau menjadi ketua IPPNU Komisariat Khadijah (kelas I) dan menjadi ketua OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah) pada saat duduk di kelas II. Dengan adanya kesempatan inilah, beliau belajar. Sebuah kesempatan yang sama sekali tidak patut disia-siakan. Beliau sering mengadakan acara-acara sekolah, kepercayaan terhadap beliau pun tumbuh dengan suburnya, karena sejak itu, beliau sering diminta untuk mengikuti penelitian-penelitian, memberikan sambutan-sambutan acara sekolah dan lain sebagainya.
Pada suatu kesempatan, beliau dan teman beliau pergi merantau ke Yogyakarta. Pesantren yang beliau datangi  adalah Pondok Pesantren Krapyak komplek Nurussalam. Yang pada saat itu Mbah Kyai Dalhar yang mengasuh. Sebelum beliau ke Pesantren itu, beliau sudah didaulat menjadi ketua IPPNU di Bangil, Jawa Timur. Tetapi setelah itu beliau akhirnya mondok di Pondok Pesantren Pandanaran yang terletak di jalan Kaliurang, Sleman, Yogyakarta.
Saat mulai berkiprah di Yogyakarta, beliau dikenal sebagai perempuan yang mempunyai kemampuan dan pengalaman lebih dalam berorganisasi dan bersosialisasi. Sampai pada akhirnya, beliau dipersunting oleh KH. Zainal Abidin Munawwir, putra  ke-9 KH.Munawwir dari Ny.Hj.Khadijah (Kanggotan, Bantul,Yogyakarta). Mulai saat itu, beliau berniat berhenti untuk terjun ke dunia organisasi lagi dan ingin menjadi ibu rumah tangga, mengaji dan mengajar di pondok saja. Namun Bapak (KH. Zainal Abidin Munawwir) tidak menyetujuinya. Beliau memahami benar kualitas kemampuan istrinya yang sejatinya sangat dibutuhkan oleh umat islam terutama para muslimah. Atas izin Bapak (KH. Zainal Abidin Munawwir), beliau mulai berkiprah lagi, mengisi pengajian sampai ke pelosok Yogyakarta. Hal itu sama sekali tidak mengurangi aktifitas beliau sebagai ibu rumah tangga yang baik.
Di Muslimat NU, beliau dipilih sebagai ketua Muslimat cabang Bantul  padahal pada saat itu, beliau sedang mewakili Muslimat wilayah Provinsi Yogyakarta. Pada saat itulah, banyak orang-orang yang sudah mengetahui kemampuan dan pengalaman beliau, maka beliau diberi amanah untuk mengabdikan diri masuk ke ranah politik dan mewakili Partai Kebangkitan Bangsa selama dua periode.
Keberhasilan dan kebesaran ini tidaklah diraih dengan gampang, dan  tidak terlepas dari orang-orang yang berada disekeliling beliau. Keluarga adalah motivator terbesar beliau melecutkan semangat dalam belajar. Yang menjadikan beliau tetap eksis sampai sekarang adalah, karena beliau mempunyai pegangan, yaitu pribadi yang komitmen, itu merupakan hal terpenting dalam berproses. Karena bagi beliau ketika beliau sudah dipercaya dan didaulat oleh masyarakat untuk menjadi pemimpin, maka disitulah beliau harus berkiprah dan bertanggung jawab.
Pesan beliau mengenai kepemimpinan wanita adalah jika seorang wanita masuk dalam kepemimpinan atau suatu organisasi, InsyaAllah akan membawa kepada kebaikan, asal kepribadian dan pola pikirnya masih benar-benar feminisme. Gerak kerja dalam hal ini sifatnya kolektif, Karena tidak semua hal bisa diselesaikan oleh laiki-laki saja atau perempuan saja. Hal ini menunjukkan bahwa sebuah kepemimpinan tidak akan berjalan mulus jika tidak disertai dengan kerjasama yang baik antar anggota.

Pesan untuk ummat yang disampaikan beliau adalah sesuai dengan keimanan, wahyu yang diberikan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW berupa firman-firman Allah. Ayat alqur’an yang pertama kali diturunkan yaitu surat al alaq. Iqra’ bismikalladzi khalaq. Ayat ini menunjukkan bahwa banyak sekali pesan yang dikandungnya. Yang beliau tekankan diantaranya :
1.      membaca dengan diri sendiri sebagai instropeksi diri sejauh mana amal kebajikan yang kita lakukan adalah bekal bagi diri sendiri. Apapun yang kita lakukan sejatinya juga untuk diri sendiri.
2.      Membaca lingkungan artinya peduli terhadap kondisi bangsa saat ini. Berbuat sekecil apapun untuk bangsa demi keselamatan sesamanya khususnya keselamatan di akhirat.
Sebagai sosok yang hidup dilingkungan pesantren, tepatnya Pondok Pesantren Al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta. Tentulah beliau sangat mengetahui bahwa pesantren merupakan wadah pelayanan dibidang pendidikan. Pesantren harus slalu menonjolkan cirri khas pesantren itu sendiri yang notabene menyampaikan risalah Rosulullah SAW. Karena pesantren adalah satu-satunya wadah yang masih murni dalam menyampaikan ilmu-ilmu agama dari sumber yang utama.
Beliau juga menyambut baik dengan adanya buletin yang diterbitkan oleh korps dakwah ini karena untuk menjembatani masyarakat yang tidak sempat untuk belajar secara langsung kepada sumbernya baik perorangan maupun institusi.
Ditengah-tengan kesibukan aktifitas beliau sebagai wakil ketua bidang perempuan DPWPPP saat ini, beliau selalu menyempatkan diri untuk mengajar santriwan-santriwati beliau dengan penuh kearifan. Itu terlihat dari keakraban antara beliau dan para santrinya. Beliau merupakan sosok wanita yang bijaksana. Putra-putri beliau yaitu Muhammad Munawwir (Gus Mamad), Khoiruzzad (Gus Izad) dan Khumairo’ (Ning Elok) sangat meneladani sifat-sifat  ayah dan ibunya. Bagi beliau, pintu keberhasilan adalah harus selalu diniati semata-mata hanya karena Allah SWT yang tak lain hanyalah memburu keridhaan Allah SWT.


Minggu, 23 Maret 2014

Al Tarikh




PEPERANGAN DUNIA SEBAGAI PERKEMBANGAN PERADABAN

Sejak zaman jahiliyyah, yaitu zaman dimana sebelum masuknya agama Islam ke kota Makkah, peperangan bukan suatu hal yang asing bagi kaum Arab pada waktu itu. Polemik-polemik yang menjadi faktor pemicu peperangan terkadang sangat tidak realistis. Muncul karena adanya ketidaksepakatan antar kabilah, saudara, perselisihan memperebutkan kepemimpinan, perebutan mata air dan padang rumput,  hingga perebutan kaum wanita.  Ayyamul ‘Arab adalah perang yang terjadi pada zaman jahiliyyah, diantaranya perang Al Basus yang terjadi antara kabilah Bakr dan Taghlib. Perang ini dipicu oleh seekor unta milik seorang perempuan tua dari kabilah Bakr yang bernama Al Basus. Kedua, perang Dahis dan Al Ghubara yang terjadi antara ‘Abasa dan Dzubyan, keduanya adalah putra Baghidh bin Raits bin Ghathafan. Tidak terkecuali dengan pemberontakan yang terjadi bertepatan dengan datangnya masa kelahiran Nabi Muhammad SAW, pasukan Abrahah menyerbu kota Makkah. Kemudian saat usia Nabi menginjak umur 14 tahun, terjadilah perang Al Fijar.
Al Ghazawat jama’ dari kata Al Ghazwah, yaitu peperangan pada masa Nabi Muhammad  SAW yang dilakukan oleh kaum  Muslimin dengan disertai oleh beliau sebanyak 27 kali peperangan. Sedangkan As Saraya jama’ dari As Sariyyah adalah peperangan atau pengiriman pasukan kaum Muslimin untuk melakukan suatu peperangan pada masa Nabi tanpa disertai beliau sebanyak 47 kali peperangan.[1] Dalam QS. Al Hajj:39 Allah SWT telah mengizinkan kepada orang-orang Muslim untuk memerangi musuhnya, yaitu orang-orang yang menentang, menyakiti, bersepakat untuk membunuh beliau Nabi Muhammad SAW.[2] Allah SWT menjelaskan tujuan yang mulia dari peperangan yang memakan banyak korban ini dengan menunjukkan beberapa sifat dan akhlak yang harus diperhatikan ketika mendapat kemenangan ataupun kekalahan. Agar tidak terkecoh oleh kehebatan dan keberanian sehingga jiwa mereka tidak tenggelam dalam kesombongan, tetapi justru mereka tawakkal kepada Allah, taat kepada-Nya dan Rasul-Nya. 
Diantara peperangan yang terjadi dalam tahun kedua hijrah, terjadilah perang Waddan, Buwath, ‘Usyairah, Dzi Amar, Badar Pertama, Qarqaratul-kadar, Badar Besar, Qainuqa’ dan Sawiq. Adanya harta ghanimah dan tawanan dalam peristiwa peperangan yang terjadi berdampak terhadap kehidupan pada masa itu. Di tahun ketiga hijrah terjadi perang Ghathafan, Bahran, Uhud, Hamraul Asad. Tetapi semuanya tidak sampai terjadi perang kecuali perang Uhud. Perang ini terjadi dengan motif balas dendam orang-orang Quraisy atas terbunuhnya teman-temannya dalam perang Badar. Kaum Muslimin mengalami kekalahan karena melanggar perintah Rasulullah untuk tidak meninggalkan bukit Uhud melainkan sibuk mencari harta rampasan perang karena dikira sudah memenangkan peperangan. Hamzah, paman Nabi sendiri dibunuh oleh Wahsyi. Perang Banu Nadlir, Dzatur-Riqa dan perang Badar Akhir terjadi pada tahun keempat hijrah. Perang Banu Nadlir terjadi karena golongan Yahudi Madinah menghianati perjanjiannya. 

Pada tahun kelima hijrah terjadi perang Banu Mus-thaliq, Khandaq (Parit) yang dipelopori oleh Salman Alfarisi, juga perang Banu Quraidlah. Perang Banu Lahyan dan perang Ghabah terjadi pada tahun keenam hijrah. Kemudian tahun ketujuh hijrah terjadi perang Khaibar. Perang Mu’tah, Pembebasan Makkah, perang Hunain dan perang Thaif di tahun kedelapan Hijrah. Karena kaum Quraisy melanggar perjanjian Hudaibiyah, maka Rasulullah memerangi mereka dengan 10.000 bala tentara untuk menaklukkan Makkah, tepat pada tanggal 20 Ramadhan. Dilanjutkan dengan perang Tabuk yang terjadi pada tahun kesembilan hijrah, tetapi tidak sampai terjadi pertempuran. 

Setelah meninggalnya Nabi Muhammad SAW, banyak suku-suku Arab yang kembali murtad dan menentang kekhalifahan Islam. Pada masa khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq terjadi perang Yamamah tepatnya pada bulan Desember 632 di jazirah Arab di  wilayah Yamamah. Perang perselisihan  antara Khalifah Abu Bakar dan Musailamah al-Kazzab yang mengaku sebagai nabi. Musailamah al-Kazzab berserta 7000 pasukannya berhasil melarikan diri dan  mundur ke benteng pertahanannya. Tetapi pasukan Muslim tetap maju untuk menumpas pasukan Musailamah hingga ke benteng pertahanannya dan berhasil menjebol pertahanan pasukan Musailamah. Akhirnya Musailamah dan pasukannya berusaha mempertahankan diri dengan terus melawan. Pada akhirnya Musailamah dapat ditombak oleh Wahsyi dan seluruh pasukannya dapat dikalahkan dalam pertempuran ini.
Meskipun di tengah peperangan yang berkecamuk, beliau Rasulullah SAW melaksanakan semua tugasnya dengan baik dan semangat. Tidak pernah lalai dalam urusan tertentu hingga dakwah Islam berhasil dengan gemilang. Dengan tahap-tahap perkembangan ini, jazirah Arab bisa menyaksikan kebangkitan yang penuh barakah, tidak pernah ada perkembangan yang mampu menandingi perkembangan pada zaman Nabi Muhammad SAW.[3] 
Tidak hanya itu, peperangan di masa modern juga terjadi. Pada perang dunia II, ketika Jerman menyerbu sebagian besar wilayah Eropa dengan menggunakan taktik baru yang disebut "Blitzkrieg" (perang  kilat). Taktik Blitzkrieg mencakup pengerahan pesawat terbang, tank, dan artileri. Pasukan-pasukan ini akan menerobos pertahanan musuh menyusuri front yang sempit. Pasukan Jerman mengepung pasukan lawan dan memaksa mereka untuk menyerah. Dengan menggunakan taktik Blitzkrieg, Jerman menaklukkan Polandia (diserang pada bulan September 1939), Denmark (April 1940), Norwegia (April 1940), Belgia (Mei 1940), Belanda (Mei 1940), Luksemburg (Mei 1940), Prancis (Mei 1940), Yugoslavia (April 1941), dan Yunani (April 1941).
Di timur, pertempuran perebutan kota Stalingrad terbukti menjadi titik balik yang menentukan. Menyusul kekalahan di Stalingrad pada musim dingin tahun 1942-43, pasukan Jerman mulai melakukan penarikan mundur. Pada bulan April 1945 pasukan Soviet memasuki Berlin. Di barat, serdadu Sekutu mendarat pada tanggal 6 Juni 1944 (yang dikenal dengan D-Day) di Normandia, Prancis. Dua juta lebih serdadu Sekutu meruah ke Prancis dan pada bulan Maret 1945, pasukan Sekutu melintasi Sungai Rhine dan bergerak maju menuju jantung Jerman dan Jerman Nazi menyerah pada bulan Mei 1945.[4] Wallahu A’lam[]Hikmah


[1] DR. Hasan Ibrahim Hasan, Sejarah Kebudayaan Islam, Kalam Mulia
[2] Umar Abdul Djabbar, Nurul Yaqin juz 2, Al-hikmah
[3] Syaikh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri, Sirah Nabawiyah, Pustaka Al Kautsar