Sabtu, 22 Maret 2014

Lebaran Ken




            Ken mendesah parau, sambil menatap Ratri,  anak satu-satunya yang sedang tidur di atas tumpukan kardus pemberian Mak Ijah sebulan yang lalu, tak terasa air matanya satu per satu bergulir, awalnya lamban menuju setetes-setetes dan akhirnya deras seketika itu juga. Apa yang dialaminya malam ini sangat mengganggu fikirannya. Seharusnya kata ‘bahagia’ adalah kebutuhan primer malam ini. Seharusnya. ‘Tetapi entahlah, seakan-akan otakku sudah penuh untuk memikirkan cara apa yang sebaiknya kulakukan, tinggal lima jam lagi sudah tiba waktunya dan hanya itu waktuku’. Batin Ken pilu.  
            “Mbak Ju, bagaimana kabarnya? Sudah lama tak berjumpa, sekarang di rumah terus ya?” Basa-basiku menyapa pagi itu ketika bersimpangan dengan tetangga berjarak lima rumah dari tempatku tinggal di pertigaan gang keluar masuk komplek.
            “Wah, kabar apik Jeng Sunar. Iya, semenjak punya si Ulin, bayi abang gendut ini aku jadi jarang keluar. Eh, Jeng, sekarang harga sembako pada mahal banget ya, melambung ke langit gak tanggung-tanggung, kalo suamiku pengangguran bisa setiap hari bikin marah nih, tapi Alhamdulillah, suamiku mau berusaha meski hanya jadi buruh pabrik, yah, dikit-dikit nabunglah”. Dengan gayanya yang khas, kelenjeh-lenjehan, wanita yang kupanggil Mbak Ju tersenyum merekah sambil menimang-nimang bayinya yang berumur delapan bulan itu.
            Ku urungkan niatku semula untuk kusampaikan pada Mbak Ju melihat komentar panjang lebarnya. Desahanku mulai kentara, dan Mbak Ju menangkap kegelisahanku.
            “Ada apa ya Jeng? Sepertinya kok sedang ada fikiran yang mengganggu”. Desak Mbak Ju penasaran.
            “Ah, tidak apa-apa, Mbak. Ini lho, Ratri di rumah sendirian, lagi sakit panas dia, untung obat anak-anak di warung Bu sabar masih ada, tinggal satu biji”. Aku menentramkan hatiku sendiri.
            “Oh, syukurlah, suamimu belum pulang-pulang juga?” Mbak Ju memicingkan matanya tanda menyelidik.
            Pertanyaan Mbak Ju bagaikan sambaran petir bagiku, mataku berkaca-kaca mengingat kejadian setahu lalu ketika suamiku, Mas Ari, meminta izin padaku untuk pergi ke Johor, Malaysia. Katanya sih mendapat panggilan kerja di PT. Hatiku berbunga-bunga mendengar kabar yang disampaikan suamiku. Dalam benakku, masa depan cerah menanti keluargaku dikemudian hari. Sengaja aku tidak tidur semalaman untuk menyiapkan barang bawaan yang akan dibawa suamiku besok pagi setelah sahur. Semalaman aku hanya memandangi wajah tirus suamiku yang sedang tidur bersandingan dengan Ratri kacil, semoga kau baik-baik di sana ya Mas, desahku. Diatas rasa kebahagiaan yang menyeruak memenuhi rongga dada, kesedihan tak kuasa ku tutup-tutupi di depan mata mas Ari. Itu artinya, Lebaran tahun ini tidak ditemani suamiku.
            “Dik, ini uang untuk Ratri, dihemat-hematkan ya, dan yang di amplop putih kecil satunya untuk Zakat Fitrah besok malam, kamu belikan beras dan bilang pada Pak Haji Hasan supaya mudah, biar panitianya yang membagikan kepada yang berhak menerimanya”. Sambil tersenyum, Mas Ari memberikan barang berharga itu untukku. 
            “Saling mendo’akan ya, Dik, semoga Lebaran tahun depan kita bisa berkumpul kembali”. Aku masih saja tidak mampu mengeluarkan satu patah kata pun. Ratri masih mendengkur tak peduli dengan kesedihan hatiku, ah, Ratri, do’akan ibu kuat ya. Bisikku memandang wajah polos Ratri yang tertidur pulas.
            Ingatanku melayang setahun lalu ketika melepas kepergian suamiku di beranda rumah sederhana di pinggiran kota metropolitan ini.
            “Jeng, kamu baik-baik saja?” Mbak Ju menepuk pundakku khawatir.
            “Ah, eh, iya Mbak, tidak apa-apa. Monggo, saya duluan”. Aku segera berlalu teringat anakku di rumah. 
            Mbak Ju melengos saja sambil mendendangkan lagu cublak-cublak suweng, kelihatannya sedang menina bobokkan si Ulin.
                                                            ***
            Setahun berlalu sejak kepergian suamiku, sedikit demi sedikit uang yang kupegang semakin menipis, padahal setiap hari aku selalu buruh cuci pakaian di rumah-rumah tetangga. Selama itu pula, suamiku tak kunjung memberi kabar. Entah bagaimana keadaannya, apakah sudah berhasil ataukah bagaimana? Aku sendiri tak berujung memikirkan pertanyaan-pertanyan itu. Ya Allah, lindungilah suamiku, pintaku dalam setiap malam-malamku.
            Dan malam ini, sepeserpun aku tak mempunyai uang untuk membeli beras. Hanya tinggal lima jam lagi menuju shalat ‘ied .                                                                               To be continued…
            [Lanjutan…]
Tik tik tik
            Air mataku kian deras mengguyur pipiku, nafasku sesak. Gusti, apakah tidak ada kesempatan lagi untukku untuk menunaikan kewajibanku? Ya Allah Gustii paringono sabar. Sembab mataku, dengan terseok-seok, aku keluar menuju jalan sepetak di depan rumahku. Berharap sesuatu.
Tak henti-hentinya suara petasan meramaikan malam berkah ini, menambah kelunya hatiku. Banyak orang lalu lalang membawa berkresek-kresek beras untuk dibagikan kepada yang berhak, apakah mereka tau keadaanku sekarang? Apakah aku harus melapor kepada mereka? Ahh, dunia ini begitu sempit kurasa. Ya, aku harus melakukan sesuatu, aku harus minta tolong kepada seseorang. Dengan sedikit berlari aku menghampiri masjid Ar-Rahman yang berjarak kurang lebih 300 meter dari tempatku. Aku hanya memikirkan Ratri, suamiku dan diriku sendiri, bagaimana aku harus memenuhi kewajiban itu.
Semakin kencang aku berlari, sepertinya waktuku semakin sempit. Ku dengar gema takbir berkumandang memenuhi jagad raya ini. Ya Allah, subuh hampir sampai. Tiba-tiba…
Bbrrrraaaakkkkk, sshhh sshhh…
Ringan sekali kurasa, terbang, melayang, tinggi dan jauh.
Sontak, semua orang yang ada di masjid menoleh seketika itu juga. Berkerumun mendekati asal suara. Sambil berjalan mendekat, mereka terkejut bukan main.
“Kecelakaan, kecelakaan, kecelakaan!!” Teriak orang-orang itu panik. Hanphone kelip-kelip memplubikasikan kejadian subuh pagi ini.
***
[Menungso usoho, dene ingkang menentukan iku Gusti Moho agung…]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar