Sabtu, 22 Maret 2014

SECUIL UNGKAPAN




Akan menjadi sebuah harga ketika sesuatu itu dihargai,
meski tak berlabel,
setidaknya meng-harga-i adalah prestasi tersendiri… (Krapyak, 22 Dec 2012)
***
            Aku hanya merasa sangat bahagia ketika lamat-lamat kudengar suara kecil dan renyah itu menembus ruang kosong tak berpenghuni ini.
            “Ibuu, beliin kertas itu bu. Yu Rii ingin menggambar!”. Kedengarannya permintaan itu sangat memaksa.
            “Yu Rii kan sudah punya banyak kertas gambar di rumah”. Ibu itu terlihat menahan hasrat anaknya.
            Aku tersenyum simpul, miris. Kuharap anak kecil yang dipanggil Yu Rii berhasil merayu ibunya. Terlihat mata elok Yu Rii berkaca-kaca, hampir meneteskan airnya. Perlahan dengan pelan, air itu pun jatuh membasahi pipinya yang mungil berlesung. Sekilas ku menatap ekspresi ibunya yang bingung berusaha mendiamkan tangisan Yu Rii yang begitu kerasnya.
            “Ya sudah, Yu Rii boleh ambil, tapi satu saja ya!”. Ibu mengernyitkan alisnya sambil mengambil sepuluh ribuan dari dalam dompetnya.
            Senyumku mengembang sangat lebar, bahkan lebih lebar dari senyuman Yu Rii. Hari ini aku sungguh sangat bahagia. Entah, aku sendiri tidak tau mengapa?
            “Iya bu, Yu Rii ambil yang warna putih”. Sambil berbinar, anak itu mengambil dengan sekenanya. Berjinjit karena letak tumpukan kertas yang lumayan tinggi. Ditampiknya tangan Mang Udin, penjual berbagai macam kertas yang berusaha mengambilkan kertas putih itu.
Ah Yu Rii, kau semangat sekali. Mang Udin dan ibu hanya tersenyum melihat gelagat Yu Rii. Dan aku tak kalah berbinar karena artinya aku akan segera bebas melanglang buana, menjelajahi alam dan menapaki dunia baruku yang selama ini ku impikan.
***
            Pengorbanan. Aku hanya ingin melakukan satu kata itu. Sesaat sebelum ku menjadi seperti ini, aku adalah bongkahan tak teratur yang menjadi korban tangan-tangan tak bertanggung jawab. Saat itu, aku ingin berontak, membalas perlakuan mereka dengan menggunakan kekejamanku, menindih dan memukul mereka. Tapi itu mustahil kulakukan. Aku tertindas dan panik. Itu sesaat sebelum aku masuk dalam perubahan-perubahan yang banyak berproses itu. Aku tak ingin pengorbanan yang terpaksa itu membuatku menjadi terpaksa dalam kehidupan ini. Hingga setiap saat selalu kupanjatkan “Ya Rabb, hamba mohon bisa bermanfaat bagi siapapun atau apapun, karena semua adalah milik-Mu. Tak terkecuali”.
Udara di sini terasa lebih dingin dari tempat sebelumnya. Rindangnya pohon linden di sekitar rumah ini melambai-lambai mengikuti arah angin berhembus. Semilir. Sungguh damai sekali hatiku. Jiwaku terasa bebas dan lapang. Tak sesesak sebelumnya. Revolution. Aku selalu membubuhkan kata ‘sebelum’ dan ‘sesudah’ dalam angan-anganku, karena aku ‘sekarang’ dan aku ‘sebelumnya’ adalah berbeda.
            Kulihat Yu Rii sibuk dengan urusannya mengurusiku. Mengambil pensil, crayon, penggaris, penghapus, dan kuas. Aku hanya merasa dicuekin dan penasaran apa yang akan dilakukan oleh Yu Rii. Menunggu dan menunggu adalah posisiku saat ini. Seperti dulu kurasa, lelah. Tapi itu sebelum aku merasakan kebebasan ini, sebelum ku berpindah tangan dari tangan yang kasar menjadi tangan kecil yang lembut dan mungil. Sekarang aku merasa ada harapan dalam penantianku. Harapan besar yang selalu ku impikan.
            Kulirik jam menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Hanya terdiam yang bisa ku lakukan saat tangan kecil itu mencoretkan beberapa garis dalam diriku. Memutar, lurus, horizontal, vertikal melengkung dan berserak. Aku merasakan garis-garis itu terlumat.
***
            “Ibu, aku ingin ibu melihatku!”. Setengah berteriak Yu Rii berlari kecil menuju ibunya yang sedang menyiapkan sarapan pagi.
            “Ada apa nak? Yu Rii sangat senang hari ini ya? Semalam bermimpi apa?” Ibu memberondong Yu Rii dengan pertanyaan-pertanyaan yang membingungkan Yu Rii.
            Aku pusing dengan guncangan-guncangan tangan Yu Rii yang tak bisa ku kendalikan.
            “Ibu… ini untuk Ibu”. Sambil menyodorkan sebuah kertas bergambar seorang ibu memakai jilbab, Yu Rii tersenyum sangat manis, lesungnya terbentuk begitu saja di pipi mungilnya.
            “Makasih Yu Rii, anakku. Ini sungguh sangat bagus”. Ibu spontan memeluk Yu Rii dan memciuminya sampai Yu Rii sesak. Duh ibu…
            Terasa buliran-buliran hangat itu menetes membasahiku. Aku tersenyum puas. Meski cat crayonnya luntur karena air mata ibu, aku tak permasalahkan itu. Ya, aku tidak berkorban, aku hanya membantu Yu Rii berkorban waktunya demi ibu. Wajah ibu yang tergambar membuat air mata ibu menetes begitu saja. Terharu. Penghargaan yang sangat luar biasa itu muncul sekenanya untuk Yu Rii. Tanpa beban. Dalam dekapan sang ibu, Yu Rii berkata lirih,”Ibu, aku sayang ibu sampai kapanpun!”. Mata ngantuk Yu Rii mengerjap-ngerjap. Lentik.
***
            Dalam hatiku berbisik, “Ya Rabb, terima kasih karena Engkau telah menjadikanku sebagai lantaran Yu Rii menerima penghargaan dari ibunya. Sebagai KERTAS yang tergambar. Karena ungkapan sayang yang tiada terkira dan cinta yang tak ada bandingannya, hanya untuk ibu. Karena rasa itu hanya akan terasa berbeda dimanapun dan sampai kapanpun”.
***
*Dariku untuk ibuku Ibu, perjuangan berletih-letih yang engkau rasakan ketika melahirkanku, sungguh tak mampu ku membalasnya. Ibu, maafkan atas segala kesalahanku yang tak terhitung jumlahnya”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar