Sabtu, 22 Maret 2014

To be continued...




Sebut saja dia Lisa, seorang remaja berumur 17 tahun. Dari kecil Lisa tinggal bersama ibu dan saudaranya, Fitri. Tak terkecuali ayahnya yang seorang pegawai PT.Kertas tak jauh dari rumahnya di Karimun. Keluarga kecil yang sangat bahagia dengan syukur sebagai landasannya. Setiap hari ada saja yang menjadikan keluarga itu berkumpul bersama untuk sekedar tukar pengalaman, melepas penat di siang hari. Terkadang setiap habis sholat maghriblah kita berkumpul di ruang tengah, yang berstatus sebagai ruang keluarga.


Entah apa yang menjadikan rancu dalam keluarga kecil ini, saat itu aku kelas VI SD dan umurku 12 tahun. Umur dimana aku sangat haus akan kasih sayang orang tua dan keluarga seperti anak-anak seumuranku yang lainnya. Ayah-Ibuku berpisah!. Sungguh sangat sedih hatiku saat itu. Aku dan kakakku, Fitri tak mampu menyembunyikan kesedihan itu. Hamper-hampir setiap hari aku tak mau pulang ke rumah, tapi apa daya, itulah rumahku satu-satunya. Tak ada tempat lain yang bisa kuhampiri. Rumah nenekku, entah! Aku tak tahu menahu perihal nenek, dari aku lahir sampai sekarang. Yang kutahu dari ibuku, nenek telah lama meninggal. Dan beliau meninggalkan warisan yang sangat banyak. Ah nenek… kubayangkan, kau adalah seorang saudagar kaya pada masa itu. Kebun sawit terhampar dimana-mana. Kau pasti cantik dan banyak orang yang terpesona denganmu dan tentu… terpesona oleh kekayaanmu. (maafkan aku nek, apakah kataku sungguh tak sopan?).



Semenjak ayah entah kemana (setelah bercerai dengan ibuku), keadaan ekonomi keluargaku Alhamdulillah tak begitu papakedane[1]. Itu berkat nenek. Warisan neneklah yang menolong morat-maritnya keluargaku. Tak ada kata yang patut kuungkapkan pada nenek selain, terima kasih nek,, aku sangat menyayangimu. Sungguh!.



Berselangnya waktu yang terus bergulir membuat keluargaku semakin merasa bahwa sosok ayah sangatlah berpengaruh dalam masa pertumbuhan anak-anak ayah, khususnya aku. Aku yang manja, cengeng, egois, menang sendiri, dan ingin diperhatikan terus membuatku tumbuh menjadi seorang remaja yang urakan, keras kepala dan susah diatur. Hal itu membuat ibuku khawatir. Apakah aku akan menjadi seorang yang baik pada nantinya? Itu terbukti saat aku diD.O dari sekolahku SMP Pangudi Luhur. Aku ketahuan terlibat skandal narkoba. Tapi aku berani bersumpah, bahwa aku tak tahu menahu tentang masalah itu. Aku difitnah! Entah siapa yang memasukkan butir-butiran pil ekstasi ke dalam tasku. Gila! Saat itu aku kelas II SMP. Sampai saat inipun aku belum mengetahui siapa pelakunya. Shiit! Umpatku.



“ Sudah terbukti, masih aja ngelak!”. Teriak seseorang dari arah belakangku. Entah siapa itu!.



                                                         



Samar-samar aku mendengar seseorang meneriakkan kata-kata itu dengan sedikit mengejek. Tapi entah itu siapa. Yang jelas suara itu terdengar dari belakangku saat aku digelangdang oleh beberapa polisi bersama satu orang temanku yang diduga terlibat juga. Dan anehnya lagi, suara itu sangat kukenal dan terasa sangat akrab!.



       Semenjak kejadian itu, ibuku sering sakit-sakitan. Mungkin karena memikirkanku begitu mendalam. Kakakku meminta padaku agar aku tinggal dengan saudara sepupuku di Bagan Siapi-api[2].mana tahan aku disana, kering, tandus dan susah air dan satu lagi bikin aku tak ngeh, ndeso. Langsung aja aku bilang Tidak! Pada kakakku. Lebih baik tinggal bersama paman Ali Syahbana, di Pekan Baru. Itu lebih bisa menjadikan hidupku lebih tenang karena tempat itu terletak di jantung kota, dekat dengan alam mayang, tempat rekreasi yang sangat eksotik. Tak kalah dengan Dufan, Ancol dan TMII. Mungkin aku akan terhibur dengan suasana yang semacam itu. Pamanku tak menolak usulanku dan saat itu juga memboyongku ke Pekan Baru. Ah… pamanku sangat baik dech!.



       Gedung yang menjulang tinggi, pusat perbelanjaan yang begitu ramai, banyak tempat rekreasi dan lain sebagainya membuatku berada dalam suasana yang begitu nyaman. Sampai-sampai aku melupakan tanah kelahiranku di Karimun. Hufft… apa peduliku dengan tempat yang membuatku hancur! Bahkan aku harus membuat perhitungan dengan orang yang menfitnahku di sekolah. Tunggu saja. Aku akan menemukanmu dan aku sudah menemukan balasan apa yang tepat untukmu!. Gumamku dalan hati.



       Tempat sekolah baru, teman baru pun kudapat di tempat baru ini. Bahkan aku menjadi ketua genk di sekolah. Genk Romter[3], begitulah julukan genk gerombolanku. Beranggotakan lima orang. Satu, Zulkifli, sok ganteng, PD abiiz tapi ndak pelit, itu yang kusuka dari dia, sering nraktir, maklum anak orang kaya. Dua, Ibnu Rifal, pendek, bermata tajam kalau lihat cewek bohai, emm… dia manis kayak gulali, sebenarnya dia pinter kalau belajar, sayangnya dia tak pernah belajar, lazy[4] abiizz.. makanya pernah tidak naik kelas tiga kali, alhasil dia tua sendiri diantara genk itu. Tiga, Adi Susilo, akrab dipanggil broowl. Karena berambut keriting, kurus dan berkacamata. Pinter orangnya tapi sekarang dia sudah meninggal gara-gara over dosis. Tiba-tiba aku teringat masa-masa bersama teman-temanku. Empat, Rama, cewek yang asyik, suka ketawa, ramah, tapi pelit dan sering iri, hamper-hampir ingin menghancurkan teman sendiri. Sebulan yang lalu dia meninggal karena kecelakaan maut di pertigaan mall SKA. Sungguh tragis akhir hayatnya. Lima, aku sendiri.



Sepandai-pandainya aku menyimpan bau belacan[5], akhirnya ketahuan juga sampai pamanku.                                                                    

  To be continued…



 





[1] Susah yang berlipat-lipat

[2] Sekitar perjalanan 5 jam dari Karimun

[3] Genk Rombongan Terkenal

[4] Malas

[5] Terasi




Tidak ada komentar:

Posting Komentar