Sabtu, 22 Maret 2014

BEBE IN MEMORY


 
Jika engkau bersedih karena kehilangan seseorang,
            Sebenarnya jauh dilubuk hatimu yang paling dalam
            Engkau sedang mensyukuri sambil terharu
            Bahwa dia pernah ada bersama-sama dengan dirimu.
            (Kahlil Gibran)
***
Kota Baru, awal tahun 2011

Kpd. YTH. Hannah Farida Ahmad
Jl. Kepodang 43
Kec. Perwira Mukti-Kota baru
Kab. Batam
Sumatra selatan 500007
            Aku kaget mendapatkan surat dari Jawa tanpa alamat yang jelas, disitu hanya tertulis “Rumah Indah.com”. Dan aku langsung faham dari siapa surat itu, ingatanku melayang pada saudaraku, Ara Fachrina. Ahh Ara.. semoga kau sehat selalu seperti Ibu yang sering menelpon bahwa keadaan di Jawa baik-baik saja. Bahkan Rumah Indah akan direnovasi oleh pihak Kecamatan.
Tak sabar ku membuka sampul surat berwarna coklat itu.
            “Mas, Mas Farhan,,, kita dapat surat dari Ara..!!”. Aku berteriak kegirangan. Mas Farhan yang sedang membuat segelas kopi ikut tersenyum girang.
Kudapati buku diary warna biru muda dan lipatan lukisan wajah Ara yang sudah usang, karena terlalu lama dilipat. Terdapat kertas kecil yang tak lain adalah tulisan Ibu, hurufnya besar-besar, acak-acakan tapi aku bisa membacanya. “SABAR NDUK, SEMUA AKAN KEMBALI PADA-NYA”. Aku sontak lemas, ada apa sebenarnya ini????

Ku buka lembar pertama…

15 Januari 2008 10.20 PM
Bebe, hari ini benar-benar indah kurasa, ibu Fatimah mengajariku menjahit sulam bunga. Sangat bagus. Meski tak sebagus punya bu Fatimah, tapi setidaknya ada yang memujiku. Hannah, temanku sekamar di Rumah Indah ini, dia adalah teman terbaikku di sini. Rumah Indah adalah  istanaku, syurgaku, rumah kecilku,. Ini semua berkat Dia Yang maha Kuasa lewat bu Fatimah tentunya. Terima kasih ibu, kau adalah pelita hatiku. ^^

Lembar kedua…

17 Januari 2008 13.25
Bebe, jahitan sulamku sudah jadi. Saangat cantik, kumpulan bunga melati putih dengan berdasar kain warna biru muda, warna kesukaanku. Sempurna. Begitu bu Fatimah memujiku. Tak henti-hentinya senyum ini tersungging di bibir mungilku. Entah, rasanya semua penuh dengan bunga. Ini pertama kalinya aku menghasilkan sesuatu dari tanganku sendiri. Saat ku mematok mataku di depan sulam itu, Hannah mengagetkanku dengan pertanyaannya, ”Ra, ketika kau telah berhasil dalam suatu usahamu, aku yakin, kau sangat merasa bahagia. Apakah ada yang akan kau bagi kebahagiaanmu itu ra?”. Aku langsung tersenyum lebar sambil mengangguk. Sambil menatapku lekat tak berkedip, saking penasaran atas jawabanku, dia bilang,”Siapa?”. Aku langsung menunjuk dadanya dengan jari telunjukku. Ya, karena dia adalah sahabatku, dai adalah jiwaku. Itu yang ku tahu beberapa akhir waktu ini, setelah aku masuk dalam kehidupan mereka, Rumah Indah. Tak tahu apa sebabnya, tiba-tiba dia menitikkan air mata. Aku bingung. Panik. Maaf  Hannah, apakah aku menyakiti hatimu?

            Tes…tes…
Tak sengaja kuteteskan air mataku, membasahi lembaran demi lembaran kertas putihmu. Ara aku kangen…

Lembar ketiga…

19 Januari 2008
Bebe, aku lagi sedih. Ibu Fatimah memarahiku gara-gara aku menumpahkan sebotol minyak tanah di dapur dekat kompor gas bertengger. Aku tak sengaja beb, sungguh. Kau percaya kan padaku? L tanganku tak sampai saat mengambil pengelap kaca di samping westafel. Keseimbanganku punah dan akhirnya menyenggol sebotol minyak tanah, ia tumpah ruah begitu saja di depan mataku, sebagian minyak tanah mengenai badanku. Kulihat saja hal itu terjadi menimpaku. Ibu Fatimah berteriak-teriak sambil mematikan kompor gas yang apinya sedikit membesar dari awalnya karena terpercik minyak tanah. Untung tidak menyembur langsung di wajahku. Sambil memarahiku dan berseru, “Kenapa kau tak patuh pada Ibu Ra? !! Apa yang kamu lakukan?!!”. Beliau menitikkan air mata. Beb, aku tak sanggup menjawabnya, hanya air mata tanpa suara yang mewakili gambaran hatiku saat itu. Ibu membawaku menuju kamar mandi. Aku diaam saja menurut sambil menahan perih hatiku. Tak pernah ibu sebegitu marahnya. “Bu, percikan air dingin ini terkadang membuatku ngilu bu, terlebih dengan keadaan seperti ini”. Aku ingin berkata, menyampaikan apa yang aku rasakan pada ibu, tapi lidahku kelu.

Lembar keempat…

23 Januari 2008
Bebe, Hannah kemarin bercerita padaku. Mungkin curhat namanya. Ah, curcol sepertinya. ^^
Dia menyukai seorang laki-laki. Dan ternyata laki-laki itu adalah Pak Farhan, seorang pengajar seni lukis di Rumah Indah ini. Satu mimggu sekali beliau datang mengajar, sesekali membawa buku cerita berganbar untuk anak-anak. Orangnya supel, cakep, tidak sombong, baik hati dan tentunya menyenangkan hati. Haha. Sepertinya tidak ada yang kurang dalam dirinya. Upppssss… kenapa aku jadi ikut-ikutan memujinya?. Dengan semangat berapi-api, Hannah bercerita, bahwa dia seperti melihat pangeran datang menghampirinya ketika bertemu dengannya. Hatinya dag dig dug tak keruan, seperti hanya dia sendiri yang sedang menghadapnya. Huuufft… padahal itu hanya perasaannya saja. Tapi sepertinya Pak Farhan orangnya cuek bahkan dingin kayak es. Dengan bahasa isyaratku, aku bilang pada Hannah, ”Kalau kau benar-benar suka, tinggal bilang padanya. Beres kan!”. Sok dewasa aku menasehatinya. Aku tersenyum berharap ada kelegaan dalam raut mukanya. Hannah menatap mataku sambil menekuk wajahnya,”Masalahnya tak sesederhana itu Ra”. Aku terpana sambil berangan-angan,”Apakah begitu ya rasanya suka pada seorang laki-laki? Apa itu yang dinamakan cinta? Ah,, aku pusing, ribet banget seehh…!”. Dia memegang pundakku, “Ra, jangan lupa nasinya dihabiskan ya, kau harus minum obat!”. Hannah berlalu dengan tatapan kosong. Aku menyimpulkan, dia lagi galau!.
           
Aku tersenyum simpul membaca tulisanmu ini, kau benar-benar lucu dan imut. Sambil sesekali ku melirik pada suamiku tersayang, dia menyeka air mataku dengan sapu tangan miliknya. “Sayang, kau harus tegar!”. Aku menatapnya dan hanya mampu mengangguk. Ku eja baris demi baris tulisan tanganmu yang rapi, Ara,,.

Lembar kelima…

25 Januari 2008 10.15 PM
Jika aku ditanya siapa saja temanmu? Aku selalu menjawab “Ada tiga!, Bebe, penaku kelinci kecil dan Hannah tentunya”. Sedangkan Ibu Fatimah adalah bagaikan malaikat penolongku. ^^

27 Januari 2008
Bebe, aku ingin merasakan jatuh cinta seperti yang Hannah rasakan. Sepertinya indah. Kemarin Hannah dipuji pak Farhan karena lukisannya bagus, dia melukis sebuah cangkir motif bunga dan di bawahnya bertuliskan “My Prince, aku ingin minum secangkir cappuchino hangat bersamamu dibawah rinai hujan”. Aku tersenyum sinis, mana bisa minum sambil hujan-hujanan, yang ada basah semua. Huh, Hannah bener-bener lebay, Dia bilang,”Itu semua karena cinta Ra.” Apa memang iya ya? Tapi sesegera mungkin kutepis angan-angan itu.

29 Januari 2008 07.00
Semalem aku tidak bisa tidur Beb, mataku sanma sekali tak ngantuk, yang ada dibenakku hanyalah rasa ingin mencintai seorang laki-laki, huhhh…
Kenapa aku berpikiran seperti itu? Bayanganku Pak Farhan melukiskan wajahku yang cantik ini. The magic of imagination. Aku jadi tersipu malu sendiri. Tersenyum sendiri. Bunga bertebaran dimana-mana, tapi aku segera sadar, seperti itukah Hannah memikirkan guru seni lukis itu? Bayangan Hannah mara-marah sambil menangis datang menghantuiku karena kanvas Pak Farhan bergambar wajahku. “Ra, kau tega!!”. Aku begidik sambil berdo’a, semoga itu tidak benar-benar terjadi. Itu hanya halusinasiku saja.
Beb, angin semalam suangaat dingin menusuk tulangku yang rapuh, hampir-hampir aku menggigil kelu karenanya, tetapi tak kusangka, dalam setengah pejaman kedua bola mataku, Hannah menyelimutiku dengan pelukannya. Hangat. Wahai hawa dingin, mohon enyahlah malam ini! Aku menggertak dalam diamku. Bisu.
            Ara, air mata ini tak kuasa lagi kubendung, sungguh sangat deras. Mas Farhan menatapku, memelukku erat
Lembar keenam…

31 Januari 2008
Bebe, kakiku ngilu sekali, seperti disayat-sayat pisau silet. Seperti inilah yang kurasakan setahun yang lalu waktu MAPALA mengadakan pendakian ke gunung lawu. Naik gunung. Itu hobiku. Aku suka tantangan. Ibuku bilang itu berbahaya, tetapi hatiku tak bisa lepas dari itu semua. Dalam perjalanan itu sepertinya aku menemukan jati diriku yang sebenarnya. Aku adalah seorang petualang. Alam adalah kawanku. Tiba-tiba saat itu, entah kerena sebab apa, kakiku benar-benar kaku, tak bias kugerakkan sama sekali, untung masih di bawah. Jadi, aku tak begitu merepotkan dibawa ke rumah sakit. Aku tak kan pernah lupa akan hal itu. Hingga vonis dokter yang mau mengamputasi kaki kananku.. sakit apa aku? Tak ada sakit dikakiku! Hanya tak bisa kugerakkan. Itu saja tidak lebih. Benar-benar shock dan aku sangat kecewa. Aku tidak bisa menerima itu. Tak bisa kubayangkan aku tanpa kaki kananku. Aku buntung,,, buntung!!! Wanita tanpa kaki sebelah! Sejak saat itu aku minta pindah dari tempat asalku, ku paksa ibu dan ayahku. Kebumen adalah tujuan kami pindah. Mungkin untuk sementara waktu sampai keadaanku benar-benar membaik, tapi bisa juga untuk selamanya. Aku tak ingin teman-temanku mengetahui akan hal ini. Aku malu dan sangat malu.
Bebe, ini untuk kedua kalinya aku merasakan ngilu di kakiku, sekarang tak lagi yang sebelah kanan, karena sudah tak ada. Kaki kiriku merasakan hal sama dengan kaki kananku seperti dulu. Ya Allah, apakah aku akan kehilangan kakiku laagi? Benarkah Engkau benar-benar sayang padaku? Aku mulai meragukan_Mu. Aku ingin memotongnya sekalian, dan aku tak merasakan sakit lagi. Aku putus asa. Aku marah pada_Mu, aku benci!
Pandanganku kabur, samar-samar kulihat Hannah berteriak histeris memanggil namaku,”Ara…Ara.. kau kenapa? Ya Allah.. tolooong..”. Bu Fatimah dan anak-anak lain penghuni Rumah Indah berhamburan mendekatiku. “Ara pingsan bu!”. Hannah menangis sekeras mungkin dan anak-anak kecil merapat tembok, takut akan teriakan Hannah.

            Ara…
Aku menepuk-nepuk dadaku. Sesak.

Lembar ketujuh…

10 Februari 2008
Seminggu lebih aku terbaring di ranjang putih memuakkan ini. Beb, kata Hannah aku tak sadar dan pingsan lamaa sekali. Kok bisa ya? Sepertinya aku merasa tidur kemarin sore dan pagi ini aku bangun. Rasanya aneh. Diselubungi kanan, kiri, atas, bawah putih semua. Ternyata di rumah sakit. Beb, tapi aku sama sekali tidak lapar melainkan  sungguh sangat haus. Dan aku sangat terharu karena Hannah tetap setia menemaniku, selalu di sisiku. Hannah, kau adalah jiwaku.

            Ara, kau tahu? Tumor yang ada dalam pita suaramu telah merembet kemana-man dan sasaran utmanya adalah kaki. Itu mengapa kau diamputasi. Dan kau tak pernah tau akan hal itu. Ara, sungguh kau wanita yang kuat…

15 February 2008 09.30 AM
Hari ini adalah hari kepulanganku dari rumah sakit. Sebenarnya sudah dari empat hari yang lalu aku meminta pada bu Fatimah untuk membawaku pulang, aku sudah tidak betah lagi di rumah sakit. Bau rumah sakit. Itu paling menyebalkan. Tapi Hannah menasehatiku sambil tersenyum,”Ssstt,, Araa kau tak boleh banyak bergerak dulu”. Hannah menepiskan gerak tanganku, dongkol bin mangkel. Aku marah pada Hannah. Tak kulirik dia barang sedetik pun. Tapi aku sendiri akhirnya yang gak tahan. Dasar Ara!^^
Dan sekarang aku benar-benar bebas beb, ibu Fatimah dan Hannah yang menggotongku menuju kursi roda, teman setiaku setahun ini. Mereka terlihat sangant lelah, letih. Maafkan aku Bu, Hannah. Aku sangat menyita waktumu.

            Ku tau Ra, hatimu tak sekeras baja. Tak sekeras batu. Dan kau tak pernah menyita waktuku sama sekali. Kau mengajariku banyak hal. Tentang ketegaran. Dan karena aku sayang padamu Ra…

Lembar kedelapan…

15 Februari 2008 21.00
Bebe, kau harus bersembunyi, tak ada yang boleh melihat kau atau aku akan marah!!
Bebe hanya diam mematung saja padahal aku benar-benar mengancamnya. Kurasa Bebe malah tersenyum. ^^ ahh bebe… kau selalu membuatku ingin memelukmu.
Beb, tak kusangka penyambutan kedatanganku di Rumah Indah sangat begitu meriah. Di sudut-sudut rumah dipasang balon warna-warni. Aku terpana karena pemandangan itu, anak-anak sangat ramai dan senang sekali, karena banyak makanan tersaji. Tak ada gurat kesedihan di wajah-wajah mereka. Mereka bersorak,”Selamat datang Araa… di Rumah Indah”. Dan yang membuatku terkejut lagi, Pak Farhan ada diantara mereka dan beliau membawa sebuah benda, sepertinya sebuah lukisan. Memandangku lantas mendekatiku sambil berbisik,”Ara, selamat datang dan bergabung lagi di Rumah Indah, dan ini untukmu”. Dengan wajah berharap aku menerima lukisan itu, hanya akan kubuka sendiri, bersama Hannah tentunya. aku menoleh pada Hannah, dia kelihatan terpaksa tersenyum. Hmm
Apakah Hannah marah padaku yaa? Karena cemburu.

            Iya Ara.. waktu itu aku sangat cemburu, tapi aku tahu maksud Pak Farhan dengan semua itu. Tak henti-hentinya aku menyeka air mataku yang tak kunjung berhenti sedetik pun. Mas Farhan menyodorkan segelas air minum kepadaku.

Lembar kesembilan…

16 February 2008
Sampai di kasur aku langsung tidur, capek sekali rasanya. Meski kasur ini tak seempuk yang ada di rumah sakit, tapi aku lebih suka yang ini. Tidak panas apalagi bau obat. Lagi-lagi Hannah membantuku, setelah shalat isya dengan berbaring, dalam hati kecilku berbisik,”Ya Allah, hamba ingin bermimpi bertemu ibu dan ayahku”. Air mataku setitik bergulir. Hannah menyekanya dan menyuruhku berdo’a sebelum mataku terpejam. Tak ada alasan untuk menolaknya.

17 February 2008
Semalam keinginanku terkabulkan Beb, ibu dan ayahku menemuiku dan mengajak ngobrol di beranda Rumah Indah, mereka terlihat ceria. Mereka memelukku sangat erat. Seperti tak mau melepasnya lagi. Sungguh aku sangat berbahagia. Ibu, ayah aku ingin bersama-sama lagi denganmu, seperti dulu, sebelum kejadian mengerikan itu terjadi. Ibu, ayah, semoga kalian tenang di alam sana. Amiin
Bebe basah karena air mataku. Maaf ya beb…^^

            Ibu Fatimah menemukanmu dalam keadaan tragis, terjepit diantara pintu mobil dan masih dalam gendongan ibumu. Waktu itu kau sekitar umur 9 tahun. Kau pingsan tak sadarkan diri. Mobil yang dikendarai ayahmu menabrak tiang listrik sekitar 200 meter dari Rumah Indah tempat kita tinggal. Aku sendiri adalah putri Ibu Fatimah satu-satunya, ayahku meninggal karena sakit. Ara, aku tahu lika-liku perjalanan hidupmu, karena perjalanan aku dan kamu adalah bersisian.

Lembar kesepuluh…

18 February 2008
Bebe, aku ingin Hannah memindahkan kursi goyang dari ruang tamu ke kamarku. Aku ingin duduk di kursi itu sambil membuka lukisan dari Pak Farhan. Hannah menyanggupi permintaanku segera. Perlahan kubuka kertas pembungkusnya. Dan? Aku terbelalak kaget. Mataku melotot menatap kanvas itu. “Araa, kau sangat cantik dengan jilbab itu!!!”. Hannah berteriak tepat di telingaku. Jantungku berdetak sangat cepat, itu lukisan wajahku yang berjilbab. Aku menerawang jauh ke masa silam, seingatku, aku tak pernah berjilbab, tak pernah! Hanya waktu shalat saja aku memakai mukena, itu pun hanya di dalam kamar. Darimana Pak farhan mendapat ide itu semua ya?
Aku menatap lukisan itu lekat, ya! Itu benar-benar wajahku, mungkin bagiku terlihat aneh. Ada jilbab di sana. Dalam hati aku mengucap syukur karena kata Hannah aku terlihat cantik, dan aku ingin menyampaikan rasa terima kasihku pada Pak Farhan, langsung pada beliau.

            Benar, kau sangat cantik memakai jilbab itu Ra, melebihi siapapun. Karena hatimu juga secantik wajahmu. Aku memandang lukisan itu beberapa kali, tak tahan dan dadaku sesak karenanya. Ara,, aku sangat merindukanmu. Sangat rindu.

Lembar kesebelas

20 February 2008
Di kamar ini aku sendirian Beb, menangis sesenggukan. Hanya kau yang menemaniku dalam kesendirianku. Dalam kesepian hatiku. Harusnya hari ini aku berbahagia ya… akhirnya Hannah dan Pak Farhan akan bertunangan. Mereka akan merajut benang kasih sayang. Sementara itu, aku perih dengan lukaku. Mengapa hatiku sangat sakit Beb? Lebih sakit dari kakiku yang ngilu dan dipotong, lebih sakit dari kaki sebelahku yang lumpuh, lebih sakit dari tenggorokanku saat pita suaraku diambil yang katanya karena tumor bersarang di dalamnya. Beb, sungguh sangat sakit. Aku hanya mematung, memandang lukisan wajahku hadiah dari Pak Farhan yang tergantung di dinding kamarku. Aku tiba-tiba ingin merobeknya, tapi aku tak sampai untuk menggapainya. Sial! Aku ingin berteriak Beb, tapi lagi-lagi air mataku yang mampu mewakili perasaan hatiku.
Beb, apakah ini yang dinamakan cemburu? Please! Jawab aku Beb!

            Ya Allah, Ara, kau ternya menyimpan perasaan untuk Mas Farhan. Mengapa aku sama sekali tak memperhatikannya. Sayang, maafkan aku. Aku tidak tahu sama sekali. Tak kalah kagetnya, Mas Farhan terpana, bingung harus melakukan apa. Semuanya telah terlambat. Air mataku semakin deras membanjiri Baju Mas Farhan, aku sudah tak tahan lagi membaca lembaran-lembaran itu lagi. Sudah! Aku tak sanggup lagi.
Tapi ini adalah amanah, dan aku harus membacanya sampai tuntas.

Lembar kesebelas…

28 February 2008
Pertunangan itu benar-benar terjadi. Dam aku tak kuasa untuk menghadiri acara itu. Mengurung diri di kamar adalah cara terjitu yang kulakukan. Dengan berbagai alasan yang ku lontarkan saat Hannah dan Bu Fatimah memintaku untuk keluar kamar. Kulihat Hannah sangat sedih, tapi dia sama sekali tak bisa memaksaku. Semuanya bingung dengan perlakuanku akhir-akhir ini. Aku merasa, Hannah bukan lagi saudaraku, bukan lagi sahabatku, apalagi jiwaku. Shhiiitt!!! Dia adalah pembunuh!!!

            Astaghfirullahal’adziim.. Ara, kau begitu bencinya padaku karena Mas Farhan. Kenapa kau tak bercerita langsung padaku. Tidakkah lagi kau menganggap aku bagian dari hidupmu? Padahal aku tak pernah sekalipun menolak permintaanmu, bahkan untuk mengorbankan diriku sendiri.

10 Maret 2008
Sejak pertunangan itu dan dilanjutkan 2 hari kemudian akad nikahnya, hanya sesekali dua kali bertemu Hannah, dia sudah tidak lagi sekamar denganku. Aku sudah tidak lagi butuh bantuannya, semuanya kulakukan sendiri. Aku bisa! Bahkan mulai sekarang, kutolak Hannah berkunjung ke kamarku. Tak sudi aku melihat wajahnya. Muak! Hanya Ibu Fatimah saja yang boleh berkunjung ke kamarku. Mereka tidak akan pernah faham dengan keadaanku saat ini! Tapi Hannah tak boleh tau hal ini!
           
Lembar keduabelas…

15 Maret 2008
Kudengar dari Bu Fatimah, Hannah akan berpamitan denganku, dia akan ke Batam, mengikut suaminya, yaitu Pak Farhan. Seseorang yang telah menjadikanku tahu akan rasa benci dan cemburu. Dan sekarang sakit.
Awalnya aku tak mau menemuinya tetapi Pak Farhan sendiri yang memintaku, memohon untuk keluar. Akhirnya aku pun luluh juga. Ku terdiam membisu mendengarkan mereka berpamitan panjang lebar, memohon do’a restu dan aaaaaaaahhhhhhhh…. Aku ingin menampar wajahnya. Tapi Pak farhan Lagi-lagi yang meredam amarahku dengan tatapan lembutnya. Apakah karena itu aku mempunyai perasaan demikian kepada Pak farhan? Aku sendiri juga tak tahu persis.
Ku merasa ada sesuatu yang menetes dari hidungku, aku segera mengelapnya. Dan itu merah! Darah segar mengalir begitu saja, aku membalikkan kursi rodaku supaya tak terlihat oleh mereka, ku usap dengan bersih darah menyebalkan itu, kenapa pula muncul di saat yang tidak tepat!! huhh..
Dengan cepat-cepat ku menggerakkan tanganku tanda isyarat,”Pergilah! Aku akan baik-baik saja. Terimakasih lukisannya untuk Pak farhan, itu sangat bagus”. Aku bertolak membelakangi mereka, menuju kamarku. Beb, aku tak tahan lagi dengan semua ini.. Mengapa Dia memberi cobaan sebegitu beratnya kepadaku.

Awal april 2008
Bebe samapaikan pada Hannah, permintaan maafku yang sedalam-dalamnya dan terima kasih telah mengisi hari-hari sepiku. Aku sudah tidak marah padanya lagi. Sekarang aku benar-benar sudah tak mempunyai kaki lagi. Bagaimana aku tidak merepotkan semua orang yang ada di sekelilingku. Ya Allah, ampunilah segala dosa-dosaku, dosa kedua orang tuaku, dosa orang-orang yang menyayangiku. Amiin
Bebe, kau tidak boleh sedih… J
           
Braaakkk,,
Tak sempat aku menutupnya buku itu terjatuh begitu saja dan aku hampir pingsan karenanya. Mas Farhan panik, dipapahnya aku ke kursi panjang di ruang tamu. Dia menyodorkan segelas air putih untuk menetralkan perasaanku.
            “Mas, kita harus pulang ke Jawa, kita harus pulang. Aku rindu dengan Ara, aku kangen Ibu!”. Aku merengek pada Mas farhan seperti anak kecil.
            “Sayang, Ara sudah pergi, do’akan dia supaya tenang di alam sana”. Suamiku dengan bijak menasehatiku yang tak bisa tenang.
            “Tidak mas, aku harus mengunjungi Ara, aku harus minta maaf padanya, aku harus mendo’akannya dengan menatap makamnya, mas, kita harus mencari tiket sekarang juga”.

            Ku lihat Mas farhan berkemas menuju agen tiket pesawat yang tak jauh dari rumah kami tinggal. Dengan sedikit panik, aku segera menyiapkan barang-barang yang akan dibawa selama perjalanan.
“Sayang, tapi kau harus berjanji, kau akan menjaga kandunganmu dan tak boleh stress dengan kejadian ini. Semua adalah kehendak_Nya dan kita tak pernah bisa melawannya”.
Sambil terisak aku menjawab,”Ya Mas, aku berjanji, kau akan tetap selalu menemaniku kan!”.
Aku pun memeluknya erat. sangat erat sekali.

Araa, aku sangat merindukanmu.
Aku sangat menyayangimu, sangat. Mengapa kau tak pernah terbuka denganku? Tapi ya sudahlah, itu bukah salahmu. Semoga Allah menempatkanmu di sisi-Nya yang terindah.

* * *


07.00 WIB
Dari kejauhan aku mendengar sayup-sayup pengumuman dari pengeras suara. “Diharapkan penumpang Lion Air Lines untuk segera masuk pesawat dengan mengikuti instruksi yang telah ditetapkan!”.
Aku menggandeng lengan suamiku dan berjalan menuju pesawat. Ibu, Ara, Anak-anak, sungguh rinduku tak tertahankan…
SELESAI

Yogyakarta, 04.01.1434.18.11.2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar